Sejarah Gereja

Sebelum Gereja Pantekosta dirintis di Temanggung, sudah ada 2 gereja aliran Pantekosta:
• Gereja “De Heer is Aldaar” dengan pendetanya Br. Wolterbeek dibantu Br. Jansen. Bertempat di Banyuurip (sekarang Jampiroso).
• Gereja “Kabar Selamat” dengan pendetanya bapak Liem Sang Loen. Bertempat di belakang pasar Temanggung, di rumah Ny. Lie A Kwie.
Gereja Pantekosta (Pinksterkerk) di Temanggung dirintis oleh Pdt. J. Ogi dari Ambarawa dibantu oleh bapak The Tiang Hwa dari Temanggung pada tahun 1921. Kebaktian-kebaktian diadakan di jalan Brojolan (Jl. Dr. Cipto) dengan menyewa tempat pak Wir, tukang pandai besi, yang sering disebut “Pak Wir Pande”.
Saat Br. Wolterbeek di interneer (ditahan), beberapa jemaatnya (Gereja “De Heer is Aldaar”) bergabung di Gereja Pantekosta yang saat itu disebut Pinksterkerk. Kemudian kebaktian dipindahkan di Jl. Parakan (Jl. Diponegoro) di rumah bapak The Han Ging (menyewa). Dengan masuknya saudara-saudara dari Gereja “De Heer is Aldaar” ke Pinksterkerk, ikut membantu pula Pdt. J. Ogi, bpk. The Tjoei Hong, bpk. Go Djoen Kwie dan lain-lain. Kebaktian lalu dipindahkan ke Gestrikan.
Tahun 1941, tim dari Pinksterkerk Surabaya berkunjung ke Temanggung, yaitu Br. J.M.L. Polii dengan rekan-rekannya. Lalu dimulailah pelayanan Sekolah Minggu (Zondaagschool) dengan gurunya bpk. The Tiang Hwa, sdri. Lauw Kiem Tioe dan beberapa yang lain. Gereja pindah lagi di Jl. Gendengan no. 9 (Jl. Dr. Cipto) di rumah bpk. The Tiang Hwa.
Tahun 1943 (jaman Jepang), Gereja “Kabar Selamat” bergabung dengan Pinksterkerk dengan nama Pinksterkerk (Sing Ling Kauw Hwee) dan kebaktian dipindahkan atau bergabung di belakang pasar (Gereja “Kabar Selamat”). Tempat tersebut lebih luas dan memadai, karena jiwa-jiwa sudah terbilang ratusan. Kebaktian dilayani oleh Pdt. Tjhio Wie Phoa (Pdt. … Rahmat) dari Magelang, bersama Pdt. Liem Sang Loen. (Saat itu Pdt. J. Ogi sedang diinterneer/ditahan)
Bulan Mei 1949, Pdt. Liem Sang Loen berangkat ke Jakarta dengan konvoi untuk menghadiri Musyawarah Besar (MUBES). Di daerah Pringsurat beliau tertembak ( bagian kepalanya), pada waktu menolong seorang anak. Beliau gugur dalam perjuangannya di dalam ladang Tuhan.
Tahun 1950, Temanggung mendapat seorang hamba Tuhan, Pdt. Joe Tjien Gwan, yang tiba di Temanggung dengan keluarganya pada tanggal 3 Maret 1950. Tahun 1957, Tuhan berkenan memberikan sebidang tanah di Jl. Raya Panglima Sudirman (Jl. Letjen. S. Parman 20 a), tanah dari Alm.Ny. Goei Djiem Jan. Dan sebuah gedung gereja dibangun di atasnya, dengan pastori. Dan tanggal 3 Maret 1958 gedung gereja ditahbiskan oleh Pdt. Lessnusa.
Pekerjaan Tuhan berkembang terus hingga dirasa perlu untuk memperluas gedung gereja. Gedung gereja yang baru selesai dipugar dan ditahbiskan pada tanggal 17 Oktober 1984. Tanggal 14 Mei 1986, Tuhan memanggil pulang Pdt. Joe Tjien Gwan (Titus Yuwono) dan pelayanan diteruskan oleh Ibu Maria Setiawaty Yuwono.
Tanggal 30 Agustus 1989, oleh Keputusan Majelis Pusat (MP) GPdI, pelayanan pekerjaan Tuhan di Temanggung dipercayakan kepada Pdt. Frans Z. Assa dari Parakan, hingga saat ini.

