Kadang kita senang sekali menyanyikan lagu itu.... "DIA mengerti, DIA peduli, persoalan yang kita hadapi. DIA mengerti, DIA peduli. Persoalan yang sedang terjadi. Namun satu hal DIA minta agar kita percaya, sampai mujizat menjadi nyata." (Cipt. Pdt. Isaac Arief).
Namun pertanyaannya, apakah kita juga mau mengerti kehendak Tuhan dalam kita? Atau mengerti rencana Tuhan yang Dia ijinkan kita alami?
Sebagai orang tua dari 2 anak perempuan, saya berusaha mengerti anak-anak saya. Keinginan, emosi mereka juga semua kecenderungan hati mereka. Saya selalu ingin yang terbaik untuk mereka, dan saya berusaha memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka. Tapi sebagai orang tua yang berusaha jadi bijak (hehehehe) tidak selamanya semua keinginan mereka saya penuhi. Ada saatnya mereka harus menunggu sampai waktu tertentu. Atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali.
Mereka kecewa, kadang sampai marah bila itu terjadi. Tapi untungnya itu hanya kadang... karena mereka lebih sering mengerti semua tujuan dari tindakan dan keputusan kami (Thanks God!!!). Entah itu karena terpaksa atau sukarela... kami terbatas untuk mengetahuinya.
Tapi satu pelajaran di sini... bila kita manusia terbatas saja bisa mendidik seperti itu. Apakah Allah tidak boleh melakukan hal yang sama terhadap kita. Dia memang mengerti semua kebutuhan dan keinginan kita, tapi lebih daripada rasa nyaman kita Dia lebih mementingkan pembentukan karakter kita untuk dikembalikan pada posisi yang semula, manusia yang mulia seperti DIA.
Matius 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Wow sebuah ide yang sangat kontroversi di tengah dunia sekarang ini. Rasanya kita tidak akan bisa "memiliki bumi" kalau tidak punya keunggulan tertentu: cerdas, ahli, profesional, kaya, punya banyak relasi, kuat,perkasa, cantik, cakep... atau mungkin ekstrim yang lainnya: sangat jelek, sangat norak, gokil dan berani keluar dari aturan. Semakin berani melawan, semakin berani jahat, semakin berani melakukan hal yang tidak wajar.
Itulah kondisi kita saat ini. Namun dalam khotbahnya yang pertama Yesus memberikan ide yang sangat bertentangan dengan nilai kewajaran. Lemah lembut maka akan menguasai bumi. Kadang langsung dalam pikiran kita muncul ooo mungkin kayak penari Didik Nini Thowok... dia orang yang lemah lembut dan kemudian menguasai jagad seni tari kontemporer Indonesia dan dunia. Hahahaha boleh juga sih... ini membuktikan hal itu juga, dari sisi lain. Tapi apakah hanya seperti itu jalan pikiran Allah?
Saya sangat tidak setuju dengan beberapa guru sekolah minggu yang bila menyanyikan lagu "Sembilan Buah Roh"... kemudian saat di kata "kelemahlembutan" selalu menggambarkannya dengan gerakan menari. Menurut saya itu bukan gambaran yang penuh mengenai kelemah lembutan. Saya kenal dengan seorang pria (bapak) yang punya perilaku yang sangat lemah lembut bahkan cenderung feminim, tapi kalau berbicara selalu "dalam" sekali, dan dalam beberapa kesempatan saat dia tidak setuju dia mengungkapkannya secara halus tapi sangat "nyelekit" bahkan cenderung "membunuh karakter". Bukan itu kelemahlembutan yang Yesus ajarkan.
Bilangan 12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
Alkitab menuliskan bahwa Musa adalah seorang yang sangat lembut di muka bumi...wowww. Bahkan saat dia disalahkan oleh kakak-kakaknya karena dia mengambil istri lagi (orang Kusy, orang kulit hitam), dia hanya berdiam diri dan saya yakin dia bahkan tidak berontak dan marah dalam hati. Dia menyesal dengan keputusannya yang salah.
Miryam, kakak perempuannya yang merasa punya andil dalam kehidupan Musa (ingat ketika Musa dihanyutkan, dialah yang menjaga mengamati Musa dari kejauhan. Bahkan saat dipungut oleh putri Firaun, dia ambil spekulasi menawarkan inang penyusu.) Miryam merasa punya hak untuk menasehati,... tapi 'kebablasan' mengecam kepemimpinan Musa. Serta mempertanyakan hak yang Musa dapat dari Tuhan. Justru karena kelemahlembutan Musa yang tidak menjawab ataupun menyanggah dengan sebuah argumen (sekalipun dalam hati), maka Allah sendiri yang membela Musa. Miryam kena kusta. Bila kita sedang dalam kondisi seperti Musa... jangan lemah, karena Tuhan perhatikan respon kita (sekalipun hanya dalam hati), tetaplah lemah lembut.
Jadi dari sini kita bisa melihat lemah lembut berarti: Emosi yang terkendali. Bukan karena kita mampu, tapi karena kita melakukan petunjuk Allah lewat FirmanNya.
Pada dasarnya Musa tidak seperti itu, karena bila kita melihat dari kesaksian Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:22 Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Musa benar-benar orang yang "powerful" saat keluar dari Mesir. Dia dididik 40 tahun di Mesir dalam sebuah sistem yang mempersiapkan dia menjadi pemimpin. Dia mungkin sekolah di SD Negeri 1 Mesir, SMP 1 Mesir, SMA 1 Mesir dan kuliah S1, S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mesir (UGM, hanya sedikit mengenang almamater-ku, hahahahaha)
Sehingga dia punya kuasa dalam perkataan dan perbuatan. Itu sebabnya ketika usianya 40 tahun, dia merasa sudah cukup berkuasa, dia mulai "menjalankan misi Allah" untuk membebaskan umatNya dengan caranya. Dia gunakan kuasanya.
Tapi itu bukan ide baik buat Allah. Allah bawa Musa dengan paksa ke Midian (semcam Gulag, kamp konsentrasi Russia di jaman Stalin sampai Leonid Brezhnev). Di sana dia menjadi menantu Imam Yitro yang cukup otoriter dan menjadi suami Zipora yang cukup perkasa seperti ayahnya, sehingga Musa yang luar biasa itu ditahbiskan masuk Ikatan Suami Takut Istri.
Tepat saatnya Tuhan, dia dipilih untuk membebaskan umat Tuhan. Haaa... dia sudah tidak berdaya, bahkan dia menjawab Keluaran 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Beda sekali dengan kondisi 40 tahun yang lalu.
Kadang rancangan Tuhan berat di waktu....hehehehe bener nggak? 40 tahun yang 'hopeless' membuat Musa kehilangan kepercayaan dirinya. Kalau ada di antara kita sedang alami seperti ini... jangan kecewa ya. Jesus takes the wheel (Carrie Underwood)
Kondisi itulah yang membuat Musa siap untuk menjadi pemimpin kharismatik sepanjang masa. Ingat ya ayat utama kita..."Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."
Sekarang kita lihat kondisi lemah lembut:
Pertama. 2 Raja 5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.
5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.
Mari kita imajinasikan, anak gadis ini melihat bahwa keluarganya dibunuh satu per satu oleh tentara Syria. Masa depannya dicampakkan, kemudian tragisnya dia harus kerja pada panglima yang memerintahkan semua kejahatan bagi keluarga dan masa depannya itu.
Gadis ini punya hak untuk marah dan dendam kepada Panglima Naaman dan keluarganya. Tapi dia ambil pilihan yang lain. Sehingga ketika dia tahu bahwa tuannya itu kena kusta, hatinya bukan bersuka (dengan berkedok roh agamawi berkata: Puji Tuhan, Allah membela saya. Syukur, kamu sekarang kena kusta!) tapi dia ikut berempati dengan kesusahan tuannya, itu membuatnya untuk berbicara tentang nabi Elisa
Ay. 3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."
Dia menempatkan dirinya dalam rencana Allah, bukannya menempatkan Allah dalam rencananya. Dia tidak memohonkan kematian tuannya, dia tidak menginginkan celaka tuannya, bahkan dia menginginkan kesembuhan tuannya….itu rencana Allah menempatkan dia dalam keluarga musuhnya.
Sesudah lakukan itu semua tuannya sembuh, bahkan Alkitab menuliskan bahwa Naaman punya kulit baru yang seperti kulit anak-anak (he was cured, and his skin became as smooth as a child's. CEV) Wow… tapi yang lebih luar biasa lagi, Naaman kemudian bertobat dan menyembah Yehova, Allah yang hidup.
Namun sesudah itu apakah yang terjadi dengan anak gadis ini? Kita tidak tahu karena Alkitab tidak menuliskannya. Tapi ingat satu ayat…
Maleakhi 3:16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya."
3:17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.
3:18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.
Kedua. 2 Raja 6:24 Sesudah itu Benhadad, raja Aram, menghimpunkan seluruh tentaranya, lalu maju mengepung Samaria.
6:25 Maka terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama mereka mengepungnya, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak.
Waktu itu Samaria terkepung sehingga mengakibatkan kelaparan dan krisis yang luar biasa bahkan mengerikan sekali karena….
6:26 Suatu kali ketika raja Israel berjalan di atas tembok, datanglah seorang perempuan mengadukan halnya kepada raja, sambil berseru: "Tolonglah, ya tuanku raja!"
6:28 Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki.
6:29 Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya."
Dua orang ibu sepakat untuk mengisi lapar mereka dengan menyembelih dan memakan anak mereka sendiri, walaupun akhirnya yang satu kemudian berlaku curang. Tapi hal ini sudah menunjukkan bagaimana kesusahan itu berlangsung dan membuat orang menjadi mata gelap.
Kemudian datanglah Firman Tuhan tepat pada waktunya Tuhan (kairos)…
7:1 Lalu berkatalah Elisa: "Dengarlah firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN: Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria."
Sebagaimana poin pertama, kelemah-lembutan membuat kita menempatkan diri kita dalam rencana Allah, bukannya menempatkan Allah dalam tujuan kita. Maka itu akan membuat kita percaya sekali kepada rancangan Allah yang dahsyat, dan keyakinan bahwa Tuhan dapat mengadakan segala sesuatu karena tidak ada yang mustahil bagi Dia.
Sebaliknya bila kita tidak bisa “lulus” melewati poin pertama tadi, maka akan sulit bagi kita untuk mengontrol emosi kita dan setuju pada Firman Allah. Karena kecenderungan manusia adalah percaya karena melihat bukti, atau percaya bila sesuatu itu masuk akal dan bisa dijabarkan. Padahal Allah kita adalah Allah kadang tidak masuk akal dan jalan-jalannya merupakan rahasia bagi kita (Amsal 25:2 Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.
Yesaya 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu)
Tidak heran ketika nabi Elisa menyampaikan Firman Allah yang mustahil untuk saat itu, reaksi dari ajudan raja adalah:
2 Raja 7:2 Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: "Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?" Jawab abdi Allah: "Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya."
Dan benar kenyataan itu terjadi…
Ayat 17 Adapun raja telah menempatkan perwira yang menjadi ajudannya itu mengawasi pintu gerbang, tetapi rakyat menginjak-injak dia di pintu gerbang, lalu ia mati sesuai dengan perkataan abdi Allah yang mengatakannya pada waktu raja datang mendapatkan dia.
Emosi yang terkendali berarti percaya sekalipun belum melihat, karena punya keyakinan yang kokoh pada Allah yang hidup. Hidup kita tergantung pada Allah yang kita percayai, bukan pada apa yang ada di sekitar kita. Yang ada di sekitar kita (baik atau buruk) hanyalah alatnya Tuhan untuk mewujudkan semua rencana Allah.
Yeremia 32:17 Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!
Kelemahlembutan memang tidak identik dengan kekuasaan, tapi siapa yang bisa menyangkal tentang kelembutan Cleopatra yang menguasai hati Julius Caesar. Ken Dedes yang menguasai Ken Arok. Tapi rasanya tidak adil kalau hanya menyebutkan satu jender saja dalam kaitan kelembutannya untuk suatu kekuasaan. Sebut saja Mahatma Gandhi, Nelson Mandela... tapi yang paling jelas adalah Yesus Kristus.
Lemah lembut tidak sama dengan lemah gemulai, apalagi lemah lunglai. Tapi lemah lembut artinya mempunyai emosi yang terkendali. Tidak pernah membiarkan orang atau keadaan sekeliling menguasai hidup kita. Tapi mengerti siapa dirinya dalam rencana Allah. Menempatkan diri kita pada rencana Allah. Kedua, percaya kepadaNya yang tetap memegang kendali atas hidup kita. Ingat lagu Carrie Underwood: Jesus take the wheel.
Namun pertanyaannya, apakah kita juga mau mengerti kehendak Tuhan dalam kita? Atau mengerti rencana Tuhan yang Dia ijinkan kita alami?
Sebagai orang tua dari 2 anak perempuan, saya berusaha mengerti anak-anak saya. Keinginan, emosi mereka juga semua kecenderungan hati mereka. Saya selalu ingin yang terbaik untuk mereka, dan saya berusaha memenuhi semua kebutuhan dan keinginan mereka. Tapi sebagai orang tua yang berusaha jadi bijak (hehehehe) tidak selamanya semua keinginan mereka saya penuhi. Ada saatnya mereka harus menunggu sampai waktu tertentu. Atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali.
Mereka kecewa, kadang sampai marah bila itu terjadi. Tapi untungnya itu hanya kadang... karena mereka lebih sering mengerti semua tujuan dari tindakan dan keputusan kami (Thanks God!!!). Entah itu karena terpaksa atau sukarela... kami terbatas untuk mengetahuinya.
Tapi satu pelajaran di sini... bila kita manusia terbatas saja bisa mendidik seperti itu. Apakah Allah tidak boleh melakukan hal yang sama terhadap kita. Dia memang mengerti semua kebutuhan dan keinginan kita, tapi lebih daripada rasa nyaman kita Dia lebih mementingkan pembentukan karakter kita untuk dikembalikan pada posisi yang semula, manusia yang mulia seperti DIA.
Matius 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Wow sebuah ide yang sangat kontroversi di tengah dunia sekarang ini. Rasanya kita tidak akan bisa "memiliki bumi" kalau tidak punya keunggulan tertentu: cerdas, ahli, profesional, kaya, punya banyak relasi, kuat,perkasa, cantik, cakep... atau mungkin ekstrim yang lainnya: sangat jelek, sangat norak, gokil dan berani keluar dari aturan. Semakin berani melawan, semakin berani jahat, semakin berani melakukan hal yang tidak wajar.
Itulah kondisi kita saat ini. Namun dalam khotbahnya yang pertama Yesus memberikan ide yang sangat bertentangan dengan nilai kewajaran. Lemah lembut maka akan menguasai bumi. Kadang langsung dalam pikiran kita muncul ooo mungkin kayak penari Didik Nini Thowok... dia orang yang lemah lembut dan kemudian menguasai jagad seni tari kontemporer Indonesia dan dunia. Hahahaha boleh juga sih... ini membuktikan hal itu juga, dari sisi lain. Tapi apakah hanya seperti itu jalan pikiran Allah?
Saya sangat tidak setuju dengan beberapa guru sekolah minggu yang bila menyanyikan lagu "Sembilan Buah Roh"... kemudian saat di kata "kelemahlembutan" selalu menggambarkannya dengan gerakan menari. Menurut saya itu bukan gambaran yang penuh mengenai kelemah lembutan. Saya kenal dengan seorang pria (bapak) yang punya perilaku yang sangat lemah lembut bahkan cenderung feminim, tapi kalau berbicara selalu "dalam" sekali, dan dalam beberapa kesempatan saat dia tidak setuju dia mengungkapkannya secara halus tapi sangat "nyelekit" bahkan cenderung "membunuh karakter". Bukan itu kelemahlembutan yang Yesus ajarkan.
Bilangan 12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
Alkitab menuliskan bahwa Musa adalah seorang yang sangat lembut di muka bumi...wowww. Bahkan saat dia disalahkan oleh kakak-kakaknya karena dia mengambil istri lagi (orang Kusy, orang kulit hitam), dia hanya berdiam diri dan saya yakin dia bahkan tidak berontak dan marah dalam hati. Dia menyesal dengan keputusannya yang salah.
Miryam, kakak perempuannya yang merasa punya andil dalam kehidupan Musa (ingat ketika Musa dihanyutkan, dialah yang menjaga mengamati Musa dari kejauhan. Bahkan saat dipungut oleh putri Firaun, dia ambil spekulasi menawarkan inang penyusu.) Miryam merasa punya hak untuk menasehati,... tapi 'kebablasan' mengecam kepemimpinan Musa. Serta mempertanyakan hak yang Musa dapat dari Tuhan. Justru karena kelemahlembutan Musa yang tidak menjawab ataupun menyanggah dengan sebuah argumen (sekalipun dalam hati), maka Allah sendiri yang membela Musa. Miryam kena kusta. Bila kita sedang dalam kondisi seperti Musa... jangan lemah, karena Tuhan perhatikan respon kita (sekalipun hanya dalam hati), tetaplah lemah lembut.
Jadi dari sini kita bisa melihat lemah lembut berarti: Emosi yang terkendali. Bukan karena kita mampu, tapi karena kita melakukan petunjuk Allah lewat FirmanNya.
Pada dasarnya Musa tidak seperti itu, karena bila kita melihat dari kesaksian Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:22 Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Musa benar-benar orang yang "powerful" saat keluar dari Mesir. Dia dididik 40 tahun di Mesir dalam sebuah sistem yang mempersiapkan dia menjadi pemimpin. Dia mungkin sekolah di SD Negeri 1 Mesir, SMP 1 Mesir, SMA 1 Mesir dan kuliah S1, S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mesir (UGM, hanya sedikit mengenang almamater-ku, hahahahaha)
Sehingga dia punya kuasa dalam perkataan dan perbuatan. Itu sebabnya ketika usianya 40 tahun, dia merasa sudah cukup berkuasa, dia mulai "menjalankan misi Allah" untuk membebaskan umatNya dengan caranya. Dia gunakan kuasanya.
Tapi itu bukan ide baik buat Allah. Allah bawa Musa dengan paksa ke Midian (semcam Gulag, kamp konsentrasi Russia di jaman Stalin sampai Leonid Brezhnev). Di sana dia menjadi menantu Imam Yitro yang cukup otoriter dan menjadi suami Zipora yang cukup perkasa seperti ayahnya, sehingga Musa yang luar biasa itu ditahbiskan masuk Ikatan Suami Takut Istri.
Tepat saatnya Tuhan, dia dipilih untuk membebaskan umat Tuhan. Haaa... dia sudah tidak berdaya, bahkan dia menjawab Keluaran 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Beda sekali dengan kondisi 40 tahun yang lalu.
Kadang rancangan Tuhan berat di waktu....hehehehe bener nggak? 40 tahun yang 'hopeless' membuat Musa kehilangan kepercayaan dirinya. Kalau ada di antara kita sedang alami seperti ini... jangan kecewa ya. Jesus takes the wheel (Carrie Underwood)
Kondisi itulah yang membuat Musa siap untuk menjadi pemimpin kharismatik sepanjang masa. Ingat ya ayat utama kita..."Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."
Sekarang kita lihat kondisi lemah lembut:
Pertama. 2 Raja 5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.
5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.
Mari kita imajinasikan, anak gadis ini melihat bahwa keluarganya dibunuh satu per satu oleh tentara Syria. Masa depannya dicampakkan, kemudian tragisnya dia harus kerja pada panglima yang memerintahkan semua kejahatan bagi keluarga dan masa depannya itu.
Gadis ini punya hak untuk marah dan dendam kepada Panglima Naaman dan keluarganya. Tapi dia ambil pilihan yang lain. Sehingga ketika dia tahu bahwa tuannya itu kena kusta, hatinya bukan bersuka (dengan berkedok roh agamawi berkata: Puji Tuhan, Allah membela saya. Syukur, kamu sekarang kena kusta!) tapi dia ikut berempati dengan kesusahan tuannya, itu membuatnya untuk berbicara tentang nabi Elisa
Ay. 3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."
Dia menempatkan dirinya dalam rencana Allah, bukannya menempatkan Allah dalam rencananya. Dia tidak memohonkan kematian tuannya, dia tidak menginginkan celaka tuannya, bahkan dia menginginkan kesembuhan tuannya….itu rencana Allah menempatkan dia dalam keluarga musuhnya.
Sesudah lakukan itu semua tuannya sembuh, bahkan Alkitab menuliskan bahwa Naaman punya kulit baru yang seperti kulit anak-anak (he was cured, and his skin became as smooth as a child's. CEV) Wow… tapi yang lebih luar biasa lagi, Naaman kemudian bertobat dan menyembah Yehova, Allah yang hidup.
Namun sesudah itu apakah yang terjadi dengan anak gadis ini? Kita tidak tahu karena Alkitab tidak menuliskannya. Tapi ingat satu ayat…
Maleakhi 3:16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya."
3:17 Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.
3:18 Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.
Kedua. 2 Raja 6:24 Sesudah itu Benhadad, raja Aram, menghimpunkan seluruh tentaranya, lalu maju mengepung Samaria.
6:25 Maka terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama mereka mengepungnya, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak.
Waktu itu Samaria terkepung sehingga mengakibatkan kelaparan dan krisis yang luar biasa bahkan mengerikan sekali karena….
6:26 Suatu kali ketika raja Israel berjalan di atas tembok, datanglah seorang perempuan mengadukan halnya kepada raja, sambil berseru: "Tolonglah, ya tuanku raja!"
6:28 Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki.
6:29 Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya."
Dua orang ibu sepakat untuk mengisi lapar mereka dengan menyembelih dan memakan anak mereka sendiri, walaupun akhirnya yang satu kemudian berlaku curang. Tapi hal ini sudah menunjukkan bagaimana kesusahan itu berlangsung dan membuat orang menjadi mata gelap.
Kemudian datanglah Firman Tuhan tepat pada waktunya Tuhan (kairos)…
7:1 Lalu berkatalah Elisa: "Dengarlah firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN: Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria."
Sebagaimana poin pertama, kelemah-lembutan membuat kita menempatkan diri kita dalam rencana Allah, bukannya menempatkan Allah dalam tujuan kita. Maka itu akan membuat kita percaya sekali kepada rancangan Allah yang dahsyat, dan keyakinan bahwa Tuhan dapat mengadakan segala sesuatu karena tidak ada yang mustahil bagi Dia.
Sebaliknya bila kita tidak bisa “lulus” melewati poin pertama tadi, maka akan sulit bagi kita untuk mengontrol emosi kita dan setuju pada Firman Allah. Karena kecenderungan manusia adalah percaya karena melihat bukti, atau percaya bila sesuatu itu masuk akal dan bisa dijabarkan. Padahal Allah kita adalah Allah kadang tidak masuk akal dan jalan-jalannya merupakan rahasia bagi kita (Amsal 25:2 Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.
Yesaya 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu)
Tidak heran ketika nabi Elisa menyampaikan Firman Allah yang mustahil untuk saat itu, reaksi dari ajudan raja adalah:
2 Raja 7:2 Tetapi perwira, yang menjadi ajudan raja, menjawab abdi Allah, katanya: "Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?" Jawab abdi Allah: "Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya."
Dan benar kenyataan itu terjadi…
Ayat 17 Adapun raja telah menempatkan perwira yang menjadi ajudannya itu mengawasi pintu gerbang, tetapi rakyat menginjak-injak dia di pintu gerbang, lalu ia mati sesuai dengan perkataan abdi Allah yang mengatakannya pada waktu raja datang mendapatkan dia.
Emosi yang terkendali berarti percaya sekalipun belum melihat, karena punya keyakinan yang kokoh pada Allah yang hidup. Hidup kita tergantung pada Allah yang kita percayai, bukan pada apa yang ada di sekitar kita. Yang ada di sekitar kita (baik atau buruk) hanyalah alatnya Tuhan untuk mewujudkan semua rencana Allah.
Yeremia 32:17 Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!
Kelemahlembutan memang tidak identik dengan kekuasaan, tapi siapa yang bisa menyangkal tentang kelembutan Cleopatra yang menguasai hati Julius Caesar. Ken Dedes yang menguasai Ken Arok. Tapi rasanya tidak adil kalau hanya menyebutkan satu jender saja dalam kaitan kelembutannya untuk suatu kekuasaan. Sebut saja Mahatma Gandhi, Nelson Mandela... tapi yang paling jelas adalah Yesus Kristus.
Lemah lembut tidak sama dengan lemah gemulai, apalagi lemah lunglai. Tapi lemah lembut artinya mempunyai emosi yang terkendali. Tidak pernah membiarkan orang atau keadaan sekeliling menguasai hidup kita. Tapi mengerti siapa dirinya dalam rencana Allah. Menempatkan diri kita pada rencana Allah. Kedua, percaya kepadaNya yang tetap memegang kendali atas hidup kita. Ingat lagu Carrie Underwood: Jesus take the wheel.
Pdt. Andrew M. Assa




