Matius 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."
Ini sebuah frasa yang kontradiktif dalam kenyataannya, sebab siapa sih yang mau menjadi miskin untuk memperoleh kebahagiaan, kita bukannya pertapa-pertapa yang senang menyiksa diri. Tapi kenyataan ini disampaikan oleh Yesus sendiri.
Tidak selamanya miskin di hadapan Allah harus benar-benar miskin secara jasmani. Tapi satu sikap bergantung kepada Allah. Sebab seorang yang merasa "kaya", dia tidak akan memerlukan Juruselamat. Bahkan dia kadang merasa dirinyalah juruselamat itu, baik bagi keluarganya, bagi masyarakat sekitarnya, bahkan bagi dirinya sendiri. Saat ingin sesuatu... dia bisa berikan semua diinginkan. Wow satu kenikmatan ego yang luar biasa.
Namun ada satu contoh: ada seorang yang kaya, namun dia tidak merasa kekayaannya sebagai segala-galanya. Ibrani 11:9 terjemahanan The Message menuliskan: "By an act of faith he lived in the country promised him, lived as a stranger camping in tents." Namanya Abraham.
Bayangin aja... karena imannya, Abraham tinggal di tanah yang Tuhan berikan kepadanya namun dengan perasaan seperti seorang anak pramuka yang sedang kemah. Aku tidak akan tinggal selama-lamanya, ini hanya sementara.
Sehingga kemana-mana dia hanya membuat kemah dan tidak merasa bahwa ini adalah tanah miliknya. "Pak itu kan karena dia belum dapet legitimasi dari Badang Pertanahan Nasional", "Kan dia emang dari suku yang biasa mengembara, semacam Beduin, sehingga tidak pernah merasa itu tanah miliknya."
OK kita bisa beri alasan apapun namun sikap hatinya ini ditunjukkan dengan kenyataan hidup. Dia sangat bergantung pada Tuhan untuk segala yang dia perbuat. Buktinya setiap kali dia pindah, yang dia buat lebih dulu adalah membangun mezbah, baru mendirikan kemah, dan setelah itu menggali sumur.
Sikap hati dan kenyataan hidup inilah yang di"serap" oleh anaknya Ishak. Sehingga Firman Tuhan mencatat kemanapun Ishak berpindah, persis kayak bapaknya; dia bangun mezbah dulu baru dirikan tenda dan gali sumur. Orang yang bangun mezbah adalah mereka yang menyadari bahwa hidup mereka sangat bergantung pada Tuhan. Bahkan untuk membangun tenda (yang mereka tau banget caranya) mereka takut salah, mereka minta Tuhan memimpin. Woww
Gak heran, tiap kali menggali sumur, tempat dimana mereka menggali selalu menemukan mata air yang luar biasa. How about us?
Kedua: Lukas 16:20 menuliskan tentang seorang yang miskin jasmani. Alkitab menuliskan namanya Lazarus (tapi bukan Lazarus saudara Maria dan Marta). Dia sangat miskin dan kemudian menjadi peminta-minta. Sayangnya, kayaknya Tuhan memang ijinkan dia tetap miskin sehingga dia harus jadi pemulung di salah satu rumah orang kaya (yang tidak tertulis namanya). Dan rupanya orang kaya ini menjadi terganggu dengan kehadiran Lazarus yang miskin, kemudian dia melepaskan anjing-anjingnya dengan harapan Lazarus bisa terusir pergi.
Namun Lazarus tidak kecewa dengan tindakan itu, dia tidak mengutuki orang kaya itu dan pergi sambil menyumpah-nyumpahi. Namun dia "bersyukur" dengan keadaan itu... dan tidak tahu bagaimana caranya, dia justru "berteman" dengan anjing-anjing itu. Sehingga tujuan si anjing malah jadi berubah 180 derajat. Mereka menjadi teman Lazarus yang terbaik (seperti Hachiko...ayo nontonlah, dijamin pasti trenyuh, hehehehe). Mereka justru kemudian menjilati boroknya, dan itu menyembuhkan...coba deh.
Kadang saat kondisi miskin.. kita berdoa supaya diberi kekayaan, tapi kadang Tuhan ijinkan kita tetap alami hal tersebut. Apakah kita bisa berdamai dengan kondisi itu. Itulah sikap yang ditujukkan Lazarus, dia miskin (kata orang) tapi dia bisa berdamai dengan nama yang diberikan orang kepadanya. Dia tidak marah, dia tidak komplain kepada Tuhan yang mengijinkan kondisi itu. Tapi justru menikmatinya dengan legawa.
Ukurannya bukanlah standar orang lain. Ukuran dia menilai dirinya adalah perkenanan Tuhan buat dia. Ingat Yusuf (anak Yakub), dia menerima visi dari Tuhan akan menjadi pemimpin, bahkan atas orang tuanya sendiri. Tapi dia ijinkan proses itu terjadi. Proses hidupnya membuat dia terdampar di Mesir, menjadi budak, pembantu rumah tangga yang tidak punya HAM. Ingat jaman itu nyawa seorang budak tergantung belas kasihan tuannya. Tapi Yusuf berdamai dengan kondisi itu. Itulah membuat dia menjadi yang terbaik dalam pekerjaannya.
Dia kemudian diserahi kekuasaan atas rumah tuannya. Tapi itu menjadi jerat yang hampir saja memakan visinya, dia digoda oleh istri tuannya. Tapi karena dia mau berdamai dengan kondisinya, dia memilih untuk tetap hidup dalam integritas daripada menyangkali imannya. Hasilnya... "terjun bebas" masuk penjara. Waduh... rasanya sudah tidak ada alasan deh untuk berbuat baik, mendingan jadi orang jahat sekalian. Tapi sikap yang sama seperti Lazarus... membuat Yusuf tetap menjadi yang terbaik sekalipun di penjara. Dia peduli dengan kesusahan orang lain, sekalipun dia sendiri dalam kesusahan yang belum ada jawabannya.
Ulangan 33:16 dan dengan yang terbaik dari bumi serta segala isinya; dengan perkenanan Dia yang diam dalam semak duri. Biarlah itu semuanya turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya.
Perkenanan Tuhan, itulah ukuran yang dipakai oleh Lazarus dan Yusuf. Bukan kata orang, bukan kata dunia, bukan kata keadaan. Tepat pada waktunya perkenanan Tuhan itu berlaku dalam hidup mereka.
Lukas 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Sekalipun miskin, Lazarus namanya tertulis dalam Buku Kehidupan Allah. Sehingga ketika ia mati, ia langsung duduk di pangkuan Abraham, dalam kemuliaan. Sedangkan orang kaya, bahkan sampai di alam maut pun namanya tetap tidak tertulis. Bukan berarti tidak boleh kaya, namun biarlah kita terus bergantung pada Tuhan dan tetap miskin di hadapan Allah.
Celakanya... sudah miskin, namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan Allah. Sengsara dobel.
2 Korintus 6:2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
Hari ini waktu kita dengar Firman Tuhan, biarlah kita meresponinya dan katakan: Jadilah padaku seperti FirmanMu sebab aku adalah hambaMu.
Terima kasih sudah mau baca note-ku yang cukup panjang ini. Tuhan memberkati kita semua.
Pdt. Andrew M. Assa




